5 Cara Efektif Meningkatkan Kemampuan Membongkar Kebohongan

5 Cara Efektif Meningkatkan Kemampuan Membongkar Kebohongan

January 18, 2017 Off By admin

5 Cara Efektif Meningkatkan Kemampuan Membongkar KebohonganKebohongan – Semua orang tentu pernah berbohong walaupun tujuannya berbeda – beda. Sebagian besar berbohong saat kondisi wawancara kerja agar ia di terima, ada pula yang berbohong agar kekasih yang dicintainya tidak marah-marah, ada pula mereka yang berbohong demi menjaga nama baiknya, hingga berbohong dikarenakan untuk menghindari dampak buruk yang lebih besar apabila ia mengatakan sebenarnya.

Pada dasarnya, berbohong adalah sebagian dari hubungan sosial maupun komunikasi antar umat manusia. Berbohong merupakan tindakan yang mana dilakukan secara sadar, yang mana pengirim pesan (pelaku kebohongan) ingin mencoba memanipulasi serta memalusikan isi pesan (informasi) pada penerima pesan (target kebohongan). Adapun itu pesan yang mengandung kebohongan biasanya tak jelas kepastiannya. Apabila pesan itu merupakan sebuah jawaban, biasanya disampaikan dalam jeda yang cukup panjang daripada waktu saat diajukan pertanyaan.

Pesan yang disampaikan ini pun biasanya kurang relevan terhadap topik yang sedang menjadi bahan perbincangan/ kurang nyambung. Secara psikologis, biasanya berbohong dapat menimbulkan sebuah perasaan bersalah dan memunculkan keraguan.

Guna menghindari hal tersebut, penting untuk kita memahami cara mendeteksi sebuah tanda-tandanya. Dalam artikel kali ini, kita akan membahas mengenai cara meningkatkan kemampuan kita untuk membongkar kebohongan.

Meningkatkan Kemampuan Membongkar Kebohongan

Di dalam upaya menilai kebohongan daripada orang lain, seharusnya diiringi dengan sebuah kepekaan menempatkan diri pada suatu situasi maupun kondisi. Bayangkan saja, apabila sejak awal kita telah tak tahu bahwa target yang mana menjadi target untuk kita bongkar kebohongannya, justru telah mempersiapkan, bisa jadi hal tersebut justru kita yang akan tertipu oleh sang target.

Nah apabila, isyarat atau indicator dari orang yang berbohong tersebut telah menjadi semakin jelas, maka hal selanjutnya adalah dengan meningkatkan kemampuan menangkap kebohongan itu sendiri.

  1. Kemampuan Observasi

Kemampuan observasi yang dimiliki oleh Leonardo da Vinci membuatnya menjadi seorang pelukis terbaik sepanjang zaman. Kontribusinya bagi keterampilan seni, terutama terhadap rincian anatomi manusia, sangatlah jelas dan layan untuk di perhitungkan sebagai yang terbaik. Selain itu juga dalam melihat sebuah kebohongan, semakin tinggi kualitas dalam melakukan observasi, maka semakin mungkin jika kita menemukan isyarat ataupun berbagai indicator orang berbohong, yang mana mungkin kita akan menemukan isyarat ataupun indicator yang sebelumnya belum pernah untuk kita temukan.

Pada saat kita telah mendapatkan banyak sekali indicator kebohongan, akan tetapi kita akan lebih mudah dalam menganalisis indicator kebohongan, tentu kita akan lebih mudah dalam menganalisis indicator tersebut untuk membentuk suatu kesimpulan.

  1. Menghindari Kecurigaan Yang Berlebihan

Sebenarnya, tak ada perbandingan yang signifikan mengenai akurasi saat menilai kebhongan yang dilakukan oleh sekelompok para ahli (psikolog, psikiater, hakim, pewawancara, atau hakim) dan juga kelompok orang awam (bukan ahli untuk menilai seseorang). Bahkan, akurasi sekelompok orang awam sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan para professional. Hal ini dikarenakan, para ahli terkadang terlalu curiga semenjak awal dalam melakukan penilaian, sementara itu tak demikian dengan para kelompok orang awam. Walhasil, kelompok orang awam lebih cenderung objektif dalam menilai suatu kebohongan.

Ingatlah ‘resep’ yang pertama yang menjadi prinsip CIA dalam membongkar kebohongan yaitu: mengabaikan kebenaran demi mendapatkan kebenaran.

Nah, jika kita ingin meningkatkan suatu kemampuan dalam menangkap/ mendeteksi seseorang yang berbohong, maka kita perlu untuk memposisikan diri sebagai layaknya orang awam. Bersihkan dahulu otak dan juga akal kita daripada kecurigaan yang berlebihan.

Hal ini akan sangat membantu kita di dalam meningkatkan akurasi dan juga objektifitas penilaian. Namun sebaliknya, ada juga yang semenjak awal tak ingin mencurigai orang, misalnya saja keluarga. Hal ini pun dapat mempengaruhi akurasi di dalam menangkap atau mendeteksi seseorang yang teridnikasi berbohong.

Sebab, ada peelitian yang mengatakan bahwasanya seseorang akan enggan untuk menilai kerabatnya sebagai seorang pembohong.

  1. Menjadi Orang Ketiga

 Guna belajar menilai kebohongan, maka kita dapat memulainya dengan mengamati beragam percakapan antara dua orang ataupun sekelompok orang yang tak kita kenal. Jangan anda menempatkan diri sebagai seseorang penyampai pesan ataupun penerima pesan, melainkan anda sebagai orang ketiga yang tentu saja tak terlibat di dalam percakapan.

Hal ini pun dapat membantu kita untuk menjadi lebih ojektif saat melakukan penilaian. Hal tersebut sebab, dengan menjadi orang ketiga, kita tak terlibat secara emosional di dalam sebuah interaksi. Menilai daripada sudut pandang orang ketiga memang terbukti memiliki akurasi dan juga objektivitas yang cendrung lebih tinggi.

  1. Memahami Subjek

Isyarat kebohongan yang akan kita tangkap dan juga anggap sebagai indicator kebohongan adalah ukuran objektif di dalam menangkap kebohongan. Akan tetapi, sebelum melakukan penilaian, maka akan lebih baik apabila kita memahami terlebih dahulu orang – orang yang akan kita nilai.

Maksudnya adalah kita terlebih dahulu mencari tau mulai dari aspek psikologisnya. Sebab, tiap karakter akan memunculkan isyarat yang berbeda – beda.

Konsep di dalam poin ini adalah lebih peka dan juga pandai dalam menempatkan diri dalam situasi dan kondisi. Misalkan saja, pengulangan kata – kata ataupun kalimat di dalam setiap argumentasi yang dikeluarkan seserang yang mengalami gangguan memori, jelas tak dapat di anggap sebagai sebuah isyarat kebohongan.

  1. Perluas Wawasan

Bisa dikatakan, bahwa memperluas wawasan ini merupakan bagian yang penting guna meningkatkan kemampuan untuk membongkar kebohongan. Sebab, luasnya wawasan seseorang sangat menentukan kemampuan dalam mendeteksi kebohongan. Tanpa wawasan luas, orang akan kesulitan mencapai objektivitas dari kesimpulannya.

Untuk itu memperluas wawasan dapat anda asah dengan banyak membaca buku, dan membaca artikel-artikel yang ada, salah satunya adalah artikel yang ada di Psikoma.com ini. Anda juga dapat melengkapinya dengan menonton filem, berdiskusi, dan lain sebagainya.

Sebenarnya, yang terpenting daripada upaya membongkar sebuah kebohongan adalah pada saat kita tau, kapan harus melakukan penilaian, kapan tidak. Sebab tidak semua kondisi yang ada menuntut manusia dalam melakukan penilaian kepada kebohongan dan juga kebenaran.

Konon, di dalam sebuah penelitian lainnya mengatakan bahwa, seorang manusia akan melakukan kebohongan sekitar 10 sampai dengan 200 kali dalam sehari. Apakah anda sanggup menilai seseorang selama 10 sampai dengan 200 kali sehari? Tentu menyulitkan sekali bukan.

Cerdik dalam membongkar suatu kepalsuan, akan lebih sempurna pada saat kita berusaha untuk tidak melakukan kepalsuan itu sendiri. By: Muhamad Fadhol Tamimy